COP Anggap Vonis Pembunuhan Orangutan Terlalu Rendah

SANGATTA – Masih ingat dengan kasus pembunuhan orang utan di Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur beberapa waktu lalu? Saat itu, tim forensik menemukan 130 peluru bersarang di tubuh orang utan yang tewas di tepi sungai di area Taman Nasional Kutai (TNK). Dari hasil penyelidikan kepolisian, diketahui orangutan itu meninggal setelah ditembak para pekebun menggunakan senjata api rakitan karena dianggap merusak kebun nanas milik mereka.

Akhirnya, empat terdakwa, yakni, Andi, Rustan, Muis dan Nasir dinyatakan bersalah secara sah menurut hukum sebagaimana pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Majelis hakim PN Sangatta menjatuhkan vonis pidana kurungan selama tujuh bulan dan denda sebesar Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan, Selasa (3/7) lalu.

Menyikapi putusan tersebut, Manager Perlindungan Habitat Centre of Orangutan (COP), Ramadhani mengatakan terima kasih atas kerja cepat tim kepolisian yang bisa mengungkap kasus tersebut dalam waktu singkat. Namun, hasil vonis yang diberikan Pengadilan Negeri Sangatta, dianggap sangat ringan dan dikhawatirkan tak menimbulkan efek jera pada pelaku.

“Putusannya sangat ringan. Saya malah khawatir dengan putusan yang ringan terhadap kasus pembunuhan orang utan, tidak memberikan efek jera bagi pelaku maupun masyarakat lain, yang menganggap orangutan sebagai hama” kata Ramadhani, Rabu (11/7/2018).

Hakim, menurut Ramadhani, tidak mempertimbangkan efek kerugian nilai dari upaya pelestarian orangutan di NK yang sudah dilakukan sejak lama. “Semestinya UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dipandang sebagai Undang-Undang yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan konservasi di Indonesia.”, ujar Ramadhani.(*)

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Share via