Pahami Stunting, PPKB Kutim Galakan Sosialisasi

IMG 20211111 WA0030

355x71a

RUMAHKARYABERSAMA.COM SANGATTA – Mempersiapkan generasi emas 2045 bukan hal mudah. Pasalnya, stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak dibawah usia dua tahun di Indonesia. Kondisi tersebut harus segera dientaskan karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045.

Untuk itu Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pengandalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) gelar sosialisasi kesehatan reproduksi sehat bagi remaja dan pecegahan pernikahan dini, serta pembekalan terhadap orang tua agar mampu mendampingi anak remajanya menuju kedewasaan.

Sosialisai yang diinisiasi Dinas PPKB Kutim tersebut diikuti sebanyak 153 orang peserta terdiri dari TP PKK Teluk Pandan, Kepala Desa, Babinsa, Babinkantibmas, para orang tua, anak remaja SMA dan remaja dewasa lainnya yang siap menikah yang berasal dari enam desa, di Aula Kantor Camat Teluk Pandan, Rabu(10/11/2021).

“Sosialisasi ini digelar untuk meningkatkan pengetahuan serta pemahaman remaja dan calon pengantin, seputar kesehatan reproduksi agar lebih siap menghadapi kehidupan perkawinan. Sehingga mampu memahami pentingnya pencegahan Stunting (kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya),” kata Kepala Dinas PPKB dr Setiadi Halim.

Setiadi berharap, kepada semua bidang untuk terus melakukan inovasi dan bahu membahu bersama mitra dalam upaya percepatan penurunan stunting di kutim. Kegiatan ini di rangkai dengan pembentukan kelompok PIK-R (Pusat Informasi Konseling Kespro Remaja) yang nantinya akan menjadi wadah bagi mereka untuk berbagi informasi dan berkreasi.

IMG 20211111 WA0029

Stunting adalah kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, Tapi perlu di ingat stunting itu pasti bertubuh pendek, sementara yang bertubuh pendek belum tentu stunting.

Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, Dinas PPKB Kutim, Yuliana Kala’Lembang menambahkan bahwa kegiatan tesebut bertujuan agar masyarakat Kecamatan Teluk Pandan segera lolos dari status lokus stunting pada tahun 2022.

“Para ramaja atau calon pengantin harus mempersiapkan bagaimana berkehidupan keluarga yang baik, sehingga nanti pada saat sudah menikah dan menjadi pasangan usia subur mereka sudah siap untuk melahirkan anak yang sehat, agar tidak ada lagi anak yang stunting,” ucapnya.

Apa yang dilakukan hari ini, hasilnya 25 tahun kedepan. Karena 25 tahun kedepan anak dari remaja dan calon pengantin sekarang akan menjadi generasi yang sehat. “Saat ini kita berpacu dengan waktu untuk melakukan berbagai upaya agar semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya pencegahan stunting.” tutur Yuliana.

Diungkapkannya untuk sasaran pencegahan stunting meliputi satu siklus kehidupan manusia, mulai dari remaja, calon pengantin, pasangan usia subur, ibu hamil, melahirkan, menyusui, baduta, balita, anak kembali lagi ke remaja. Di masing masing usia inilah masa yg tepat untuk melakukan intervensi spesifik.

Oleh karena itu, sambung Yuliana, pencegahan pernikahan dini, perbaikan gizi, pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan menyusui, penanganan persalinan, pola asuh yang baik dan pelayanan kontrasepsi bagi PUS, perlu terus di tingkatkan. Sedangkan intervensi sensitif dilakukan bersama lintas sektor seperti ketersediaan pangan, air bersih, sanitasi yang baik, polah asuh yang benar, pendidikan, akses pelayanan kesehatan dan lainnya.(Advetorial/Diskominfoperstik/Rb.05R)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *