RPH Kutim Potong 12 Ekor Sapi per Hari

IMG 20190217 WA0014
pampflet RKB fix
IMG 20190217 WA0014
Rumah Potong Hewan Kutai Timur

RUMAHKARYABERSAMA.COM, SANGATTA – Dalam upaya memberikan pelayanan masyarakat , khususnya penyediaan daging yang aman, sehat, utuh, dan halal, membutuhkan sarana melaksanakan pemotongan hewan secara benar, atau sesuai dengan persyaratan kesehatan masyarakat veteriner, kesejahteraan hewan dan syariah agama.

Keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) di kawasan Batota Jalan Poros Sangatta-Bengalon, sudah ada sejak 2014 lalu. Namun, belum banyak diminati para pejagal. Karena fasilitas dan sarana air bersih belum dilengkapi.

“Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 2 tahun 2006, RPH adalah suatu bangunan atau kompleks bangunan dengan desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higienis tertentu, serta digunakan sebagai tempat pemotongan hewan, usaha dan kegiatan di RPH meliputi, pemotongan, pembersihan lantai tempat pemotongan, pembersihan kandang penampung, pembersihan kandang isolasi, dan/atau pembersihan isi perut dan air sisa perendaman,” kata Kadis Pertanian Kutim, Sugiono, belum lama ini.

Setahun belakangan ini, Dinas Pertanian Kabupaten Kutai Timur telah melakukan perbaikan dan pembenahan RPH. Rutinitas pemotongan hewan pun sudah berjalan lancar. “Selama tahun 2018 RPH Kutim sudah berjalan dengan baik dengan melakukan pemotongan rutin setiap malam dengan interval enam hingga 12 ekor sapi per hari. Dengan demikian, RPH sudah memberikan kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) untuk Kutai Timur, melalui penarikan retribusi daerah,” ungkap Sugiono.

Jumlah tersebut, menurut Sugiono, untuk memenuhi kebutuhan daging secara lokal atau di lingkup Kutai Timur, khususnya Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. “Seluruh pejagal di Kutim ada 16 orang, semuanya telah masuk di RPH. Jadi tidak ada lagi pejagal yang melakukan pemotongan sapi di luar RPH. Mereka menyembelih sapi untuk kebutuhan daging warga Kutim,” ujar Sugiono.

Dari retribusi RPH, set PAD Kutim ketambahan Rp 3-4 juta per bulan. Retribusi tersebut langsung disetorkan ke kas daerah melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kutim.(Advertorial/Kominfo Perstik Kutim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *