Hati-hati Bibit Palsu, Petani Jangan Tergiur Harga Murah

LogoLicious 20180811 121636
Masyarakat dihimbau agar berhati hati dalam membeli bibit
Masyarakat dihimbau agar berhati hati dalam membeli bibit

SANGATTA – Penjualan bibit pohon kelapa sawit tanpa dokumen atau palsu diduga masih cukup marak di wilayah Kabupaten Kutai Timur. Bahkan, tak sedikit petani tertipu, karena harganya yang jauh lebih murah. Padahal, saat panen, hasil yang diperoleh jauh lebih rendah dibanding bibit berdokumen.

Sekretaris Disbun Kutim, Kasiyanto mengatakan peredaran bibit palsu masih ditemukan jajaran pengawas Dinas Perkebunan Kutim. Ia pun meminta petani memeriksa dengan teliti saat membeli bibit sawit.

“Jangan tergiur dengan harga bibit sawit yang murah, namun ternyata palsu,” ungkap Kasiyanto.

Pastikan, bibit yang dibeli memiliki dokumen. Karena bibit palsu, menurut Kasiyanto, tidak ada dokumennya. Harga yang ditawarkan untuk bibit palsu juga lebih murah, yakni Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kecambah. Sedangkan bibit asli, per kecambah dibandrol Rp 7.500 hingga Rp 9.000.

“Selain harga dan dokumen yang berbeda, hasil panennya pun akan berbeda. Kalau bibit palsu, hanya bisa menghasilkan bobot sekitar 50 persen dibanding jika menanam bibit asli. Kualitas kandungan minyak, ketebalan tempurung juga akan beda. Petani sudah keluar uang untuk membeli bibit, sudah menanam dan memelihara dalam hitungan tahun, ketika panen, hasilnya tak memuaskan. Sudah rugi tenaga, rugi juga di biaya,” ujar Kasiyanto.

Adanya penggunaan bibit palsu di Kutim, menurut Kasiyanto, akibat minimnya modal petani dan keinginan segera memperoleh hasil.

Namun bagi masyarakat yang sudah terlanjur menanam dengan bibit palsu, ada kebijakan pemerintah pusat memberikan bantuan dana Rp 25 juta per hektare. Petani bisa mendaftarkan lahannya untuk diremajakan (dipotong). Dengan syarat usia tanam sudah umur 8 tahun dan produknya tidak lebih 10 ton per hektar per tahun.(*)

Pos terkait